Hujan yang mengguyur Jakarta siang itu membuat seorang kurir harus bergegas sampai tujuan sebelum barang yang dipesan customer nya basah. Rela mengorbankan Jas/mantel hujannya untuk menutupi barang milik customer yang dibawanya, Ia rela kehujanan hanya untuk sebuah dedikasi yang tinggi terhadap pekerjaannya.
Siang itu seorang pria setengah baya keluar dari sebuah toko accesories mobil yang berada di lantai 5 di kawasan Atrium plaza senen Jakarta pusat dan berjalan menuju ke parkiran. Tampak pintu menuju parkiran terbuka lebar dan ketika melewati depan pintu lift tiba-tiba “bughh..” Bapak tersebut menabrak orang yang berjalan keluar dari lift.
“Lu punya mata nggak..?? orang jalan main tabrak aja..!!” seraya membentak seorang pria setengah baya dengan dandanan perlente itu memaki orang tersebut yang tak lain seorang kurir dan si kurir pun menjawab, ” Maaf Pak, bukannya sampean yang nabrak saya ? ko jadi sampean yang marah-marah..??” bela si kurir tersebut dan ditimpali kembali oleh si Bapak tadi “ehh…udah salah masih ngeyel..bukannya minta maaf kek apa kek ..” ocehan pria setengah baya itu kini kian semrawut tak karuan “Pak..sampean sendiri yang nabrak saya sampe barang yang saya bawa jatuh, dan Bapak sendiri yang jalannya meleng bukan saya yang nabrak sampean ” dengan nada kesal si kurir tetap membela diri karena memang dia tak merasa menabrak si Bapak tersebut.
Perang mulut pun tak terhindarkan dan menjadi pusat perhatian di tempat itu sehingga saking kesalnya si Bapak tersebut mengeluarkan kata-kata yang seharusnya tak pantas diucapkan seorang seperti dia, “DASAR RENDAHAN..!! GAK PERNAH MAKAN BANGKU SEKOLAHAN YA ?? ” terperanjat si kurir tersebut sambil membetulkan barang bawaannya yang jatuh dia menjawab, ” jujur seumur hidup saya, belum pernah dan saya rasa belum ada orang yang bisa makan bangku sekolahan , emang sampean udah makan berapa bangku sekolahan Pak, boleh donk saya diajarin..?? ” dan disambut tawa yang ramai dari orang-orang yang menyaksikan kejadian tersebut hingga membuat si Bapak tersebut merasa malu dan bergegas meninggalkan tempat tersebut dengan hati dongkol dan rasa malu ditertawakan banyak orang.
Sobat sesukses apapun kita, jangan pernah meluapkan emosi dengan menghina orang yang status sosialnya dibawah kita. Mari kita bermawas diri dan cerita diatas adalah realita yang seringkali terjadi bahkan dialami seorang kurir yang tak lain adalah aku.
-salam-
Popularity: 4% [?]
Artikel Terkait: