Sesekali kutatap batas langit di sana, menerawang nanar cakrawala. Bergumul dalam pencarian keadilan Tuhan. Lama terdiam, kadang teriak. Sampai padi-padi penghuni sawah itu bergoyang menertawakan kegilaanku. Biarlah aku tak peduli. Sama tak pedulinya dengan hidup. Jujur ku kepengin mati. Beri aku mati.
****
”Abah… pulang yuk… tau ndak bah tadi..e.. dedek mancing balleng temen-temen, dedek dapet ikan gedheee banget lho bah, tllus uda dibakallin ama Ibu, padahal dedek pengen digoleng tapi tata Ibu lagi nggak punya apa tuh namana..ah dedek lupa… Yuuk bah pulang… makan baleng… abah kan belum makan dalli kemalen!!!” cerocos anak semata wayangku yang baru berusia 3 tahun. Hhh, kesatriyaku, maafkan abah ya nak, bahkan untuk sekedar membelikan minyak untuk Ibumu saja abah tak mampu. Tuhan Kau lihat? Keluhku dalam hati. ”yuk nak.” Kugendong ksatriyaku. Mencoba tersenyum, dalam kegamangan jiwa yang kian merangsek batin.
”Ibu… dedek pulang niy…Acalamkum, baleng abah lo bu..” dia merangsek turun dari gendonganku, bergegas mencium tangan ibunya. ”Oh anak ibu emang pinter…Wa’alaikumussalam…” ucap permataku seraya mengangkat ksatriya kami dalam gendongannya, yang digendong seakan senang sekali tak ingin kehilangan kehangatan gendongan itu. ”Bah, darimana saja? Ibu khawatir terjadi apa-apa, dari tadi pagi kan Abah belum makan, yuk makan dulu, seadanya saja ya Bah, maaf sebagai istri Ibu cuma bisa menghidangkan ini, ikan bakar tangkapan Dedek tanpa nasi karena beras memang sudah habis,” raut lugunya semakin membuatku merasa bersalah, maafkan aku permataku.
****
Tengah malam hari ini juga, dengan tidak berbekal apa-apa, tanpa berpikir lebih panjang lagi aku keluar rumah. Tak pernah aku sekalut saat ini. Rasa muakku kepada hidup sudah terlalu bejibun di jiwaku. Nyaris tak bisa berpikir jernih. Serasa hidup dan keberadaanku dalam kehidupan hanyalah sesuatu yang tidak penting.
Aku terus berjalan menembus malam, tanpa arah. Tanpa tahu apa yang harus kuperbuat. Yang jelas yang kutahu aku cuma pecundang yang tak becus pada keluarga. Hasrat kepengin matiku amatlah besar saat itu. Aku benar-benar memutuskan diriku berakhir sebagai pecundang saat itu. Aku hanya bisa lari. Hingga aku mati. Dan malam itu aku sedang mencari mati.
Aku berjalan, mencari tempat dengan peluang mati lebih besar. Menyusuri tapak malam. Hingga tiba aku pada sawah-sawah di desaku, mungkin ini tempat yang cocok untuk pecundang sepertiku mati. Aku segera mengkonfirmasinya pada hatiku? Bagaimana dengan tempat ini? Hati menjawab,” Jangan, ini adalah sawah orang. Sawah tetanggamu, sawah tempat harapannya digantungkan, jangan kau kotori sawah ini dengan darah kotormu. Jangan. Carilah saja tempat lain!”
Aku menurut. Ku berjalan lagi, mencari lagi. Hingga pencarianku tiba pada jalan. Akupun segera meminta fatwa pada hatiku, berharap dia menyetujui yang ini. Karena aku sudah terlalu capai. Dan hasrat kepengin matiku sudah nyaris luber. Bagaimana dengan tempat yang ini? Hati kali ini menjawab, ”Tidak, kau tidak pantas mati di sini, kau cuma seorang pecundang. Jalan terlalu terhormat untukmu, jalan adalah harapan setiap orang, jangan kau nodai dia. Lebih baik kau cari tempat yang lebih layak untukmu mati.”
Lagi-lagi aku menurut. Aku tak bisa menolak atau pun mungkir dari kata Hati. Dan aku mulai lagi berjalan, dengan sisa-sisa energi yang ku miliki, sungguh kurasakan ini sangatlah berat, penuh perjuangan. Padahal aku cuma ingin menemui matiku. Mati yang layak sebagai seorang pecundang. Dan kali ini aku sampai pada jembatan. Bukankah ini tempat paling cocok untukku mati? Senang sekali aku menemukan tempat ini, segera kutanyakan pada Hati, ”Bagaimana dengan yang ini? Pas bukan? Tak apalah aku menambahi sedikit noda pada sungai yang memang sudah pekat dan kotor. Bukankah aku juga kotor, jadi tak masalah kan?” Diam sejenak, lalu baru setelah beberapa saat Hati pun menjawab dengan suara sedikit parau, ”Jangan, jangan kau tambahi kotornya. Kamu hanya akan jadi polutan bagi yang masih hidup. Jangan lagi menyusahkan orang hidup jika kamu pengen mati. Mending kamu sekarang ke bawah jembatan ini, telusuri lagi bantaran sungai ini! Cari matimu diantara pemukiman kumuh itu!”
Lagi-lagi aku tak bisa membantah kata Hatiku. Dengan mengumpulkan sisa-sisa energi kehidupan aku bangkit dan mulai turun ke bawah jembatan, mematuhi perintah Hatiku. Meski aku sebenarnya sangat jengkel, aku sudah capai hidup. Kepengin segera mati, kuharap jika aku menemui tempat yang layak untukku kali ini, Hati akan segera menyetujuinya. Aku mulai menyusur, tak ada yang aneh pada pemukiman kumuh di bantaran sungai ini. Sama seperti di bantaran sungai-sungai lainnya. Hanya saja,,,
***
Pagi setelah malam tadi, aku sudah di rumah dengan raut lebih segar meski tak cukup bugar. Ku sambut dengan senyum orang-orang terkasih di sekitarku. Lenyap sudah inginku akan mati. Akupun takjub pada perubahan cepat ini. Yang ku tahu dan ku yakin hati telah berhasil membujukku lewat tingkah anehnya menolak semua tempat yang aku rekomendasikan padanya tadi. Hingga ia membawaku pada sebuah tempat. Pemukiman kumuh. Ya pemukiman kumuh. Dekat bantaran sungai tadi. Aku benar-benar takjub, hati menuntunku menemui hal-hal amazing yang lama hilang di hidupku. Kedamaian, perjuangan, rasa syukur, dan semangat hidup. Ya, lewat mereka. Orang-orang bawah yang masih punya harapan di wajah lelahnya.
Popularity: 7% [?]
Artikel Terkait: