Ketika keadilan diburamkan
Ketika hak dirampas
Ketika kebebasan dihadang oleh perizinan yang penuh birokrasi sesat
Ketika itu pula jiwa meradang
Satu sisi anarki diberangus, disatu sisi kekerasan dipertontonkan
Penindasan terhadap kehidupan
Pembunuhan kreativitas
Katanya pemerataan
Katanya junjung tinggi HAM
Katanya… katanya… katanya…
Tapi yang menari di pelupuk mata adalah cengkraman tangan-tangan api
Yang sewaktu-waktu meledak saat kebenaran unjuk gigi
Yang benar dipenjara, yang salah tertawa
Di mana hak [...]
Lelehan air mata itu kini lahirkan rasa dalam lubang hati yang kering di dua musim. Dan ketika secawan rasa yang meluncur ke jantung ini, seolah memaksa untuk mengatakan, “Dik hinakah jika aku menjadi imam dalam hidup mu ?”
Mata menerawang malam
Resah mengiringi penantian
Tanpa pasti bila cinta itu datang
Hanya yakin bahwa Rahmat-Nya kan menjelang
ah……semoga
ikut serta pada blog sahabat dalam Puisi Cinta Satu Bait
Filed under: Aku, KBM, Sastra Tagged: bait, Cinta, KBM, Lomba, Puisi, puisi cinta satu bait, rahmat, satu bait
Di pematang sawah aku berdiri, terus terpaku meski indah lembayung senja menyapaku. Aku sama sekali tak tertarik. Terlanjur luruh dalam kejenuhan yang sangat pada hidup begini saja. Asaku sudah diambang batas.
Sesekali kutatap batas langit di sana, menerawang nanar cakrawala. Bergumul dalam pencarian keadilan Tuhan. Lama terdiam, kadang teriak. Sampai padi-padi penghuni sawah itu bergoyang menertawakan [...]
Suatu hari seorang raja yang terkenal lalim, tiba-tiba mengumpulkan rakyatnya ‘katanya’ untuk memberi hadiah. Tumben-tumbenan ini raja mau kasih hadiah, begitu pikir sebagian besar rakyat.
Akan tetapi dasar raja lalim, sekalipun ia memberi hadiah ia tidak memberinya gratis.
“Wahai rakyatku, aku punya hadiah besar untuk kalian” kata raja.
“Horee…’
“Tapi ada syaratnya” raja menambahkan.
”Huuuu “ Rakyat berteriak dalam hati.
Foto: [...]
“Dia berkata bahwa dia akan berdansa denganku jika aku membawakannya mawar merah,” kata Pelajar Muda, “tetapi di sekeliling kebunku tidak ada mawar merah.”
Dari sangkarnya di belantara pohon jati Burung Bul-Bul mendengarkan suara Pelajar Muda, sambil mengawasi di sekitar dedaunan dan bertanya dalam hati.
Senja setelah lelah bergumul dengan jalanan ibukota. Aku menyingkir dari kepenatan. Menuju ruang persinggahan. Di bantaran kali yang terpolusi hebat, di bawah pohon yang kuheran masih saja ia segan tuk tumbuh di sana. Seperti sebuah keterpaksaan, dari pencarian-pencarian yang telah digelar untuk sebuah kenyamanan tumbuh. Tapi nihil, apa yang bisa kalian harapkan dari sebuah kota [...]
Ketika kau berada di sini, Aku tak bisa melihatmu dalam mata
Bagai malaikat kulit tubuhmu membuatku menangis
Kau melayang bak bulu dalam dunia yang indah
Dan aku berharap menjadi istimewa, Karena kau sangat istimewa
aku hanya bisa terdiam…..
ketika aku terpana melihat sesuatu yang indah ditengah turunnya hujan..
sulit rasanya untuk berkata dan ingin melepaskan keinginan ini…
aku gemetar ….
sekujur tubuh ini ku peluk dengan kedua tangan ku
sambil berkata…
andai aku bisa berjalan dan memeluk dirinya….
andai aku bisa berlari dan menggapai keinginan ini…
ughhh…
aku hanya terdiam dan tak bisa bergerak….sedikit pun
yang kurasakan hanya…..